Skip to content →

Hobi Nulis Pengaruhi Keputusan Saya Alih Profesi

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedIn

November tahun 2016 genap satu tahun saya beralih profesi dari seorang guru menjadi seorang content writer. Dulu saya adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di daerah Tangerang Selatan. Tentu banyak suka dan duka menjadi seorang guru selama kurang lebih delapan tahun lamanya.

Selama menjadi guru, saya memiliki hobi menulis dan menyalurkan tulisan saya melalui blog. Saya pun banyak bergabung dengan berbagai komunitas blogger untuk belajar dan menimba ilmu menulis.

Baca juga 10 Langkah Cara Praktis Membuat Konten Viral

Alih Profesi Karena Hobi

Oh ya, pasti pertanyaannya kenapa saya alih profesi menjadi seorang content writer?

Keputusan itu tak lepas dari aktivitas saya yang suka ngeblog. Saya membuat blog pertama kali pada tahun 2008. Tapi, saat itu saya kurang konsisten dan tidak terlalu banyak menulis di blog karena belum menyadari potensi dibalik sebuah blog.

Barulah tahun 2010 saya mulai aktif ngeblog di blog pribadi juga ikut menulis di blog keroyokan seperti Kompasiana. Dari pengalaman ngeblog itulah saya mulai memberanikan diri untuk mengikuti blog competition.

Hadiahnya lumayan, mulai dari gawai terbaru hingga jalan-jalan gratis. Nah, alasan yang terakhir inilah yang akhirnya membuat saya memutuskan alih profesi menjadi seorang content writer.

Tugas menjadi guru tidaklah mudah. Setiap guru harus memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengajar. Gara-gara beberapa kali memenangi lomba blog yang hadiahnya jalan-jalan, membuat saya terpaksa harus meminta izin.

dari-hobi-menjadi-profesi-3
saat saya masih menjadi guru

Awal-awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan timbul rasa bersalah membiarkan anak-anak dengan kumpulan tugas-tugasnya. Sementara saya sendiri malah refreshing jalan-jalan dari lomba blog.

Hingga suatu saat setelah saya pulang dari Raja Ampat, Kepala Sekolah saya secara tidak langsung membuka pikiran saya.

“Untuk menjadi guru itu harus all out, pilihan kita hanya dua. Sepenuhnya terjun langsung dalam dunia pendidikan atau tobat profesi dan memilih profesi lain yang paling disukai.” ujarnya di hadapan rekan-rekan guru lainnya saat briefing pagi.

Saya tidak merasa disindir oleh Kepala Sekolah saya. Saya malah berterima kasih atas wejangan itu sehingga saya berani memilih alih profesi menjadi seorang content writer. Berangkat dari nasihat Kepala Sekolah itulah akhirnya saya memutuskan untuk tobat profesi dan memilih meninggalkan dunia pendidikan dengan langkah mantap.

Memang, secara financial  kebutuhan saya sudah tercukupi dengan profesi sebagai guru. Saya mengajar di salah satu sekolah Nasional Plus dengan gaji diatas rata-rata guru di Tangerang Selatan. Tapi, tetap saja batin saya tak bisa mengelak.

Cukup sudah saya harus menentukan langkah, apalagi saat itu usia saya menginjak kepala tiga. Sudah tidak muda lagi dan saatnya benar-benar menentukan masa depan yang lebih cocok dengan passion saya selama ini.

Setelah berdiskusi dan memberikan argumen yang cukup rasional pada keluarga, saya mantap memilih jalur sebagai seorang content writer di salah satu Online Travel Agent di Jakarta.

profesi-content-writer
saat setelah alih profesi menjadi full time content writer

Banyak perubahan yang terjadi setelah saya menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan start up. Mulai dari pola jam kerja, gaya berpakaian hingga kebutuhan laptop yang lebih canggih lagi.

Saat menjadi guru, saya harus disiplin dan tepat waktu datang ke sekolah. Paling berat tentu saja saat mendapatkan tugas piket menyambut siswa di depan gerbang sekolah. Saya harus sudah berada di sekolah paling lambat pukul 06.45 WIB.

Berbeda ketika saya bekerja di sebuah perusahaan start up. Saya bebas datang kapan saja asal durasi kerja mencukupi 8 jam setiap harinya. Jika saya masuk pagi, saya bisa pulang lebih awal. Begitu juga sebaliknya. Jika masuk siang, saya harus pulang lebih lama. Jam kerja yang sangat fleksibel.

Gaya berpakaian pun makin mengikuti tren kekinian. Saat menjadi guru, celana jin hanya boleh digunakan saat hari tertentu saja. Selebihnya saya harus menggunakan seragam guru yang sudah disediakan sekolah. Belum lagi penampilan yang senantiasa harus rapi jali menggunakan kemeja dan dasi.

Mengingat masa-masa itu saya jadi rindu. Tapi, saya merasa nyaman dengan kondisi yang sekarang. Istilahnya ini gue banget gitu loh.

Baca juga Menjadi Blogger Adalah Pilihan Saya

Alih Kebiasaan

Tak ada seragam, bisa pakai celana bahan jin kapan saja, sepatu casual hingga kadang-kadang saya hanya menggunakan kaus oblong ke kantor hahaha. Tapi, biasanya saya tetap membawa kemeja untuk persiapan kalau ada meeting mendadak.

Boleh dibilang saya sangat menikmati profesi saya saat ini. Saya bersyukur karena merasa tidak salah langkah, tidak salah pilih, meskipun tunjangan sertifikasi guru saat itu memang menggiurkan. Tapi untuk apa dapat tunjangan jika saya tidak bahagia?

Tantangan menjadi seorang content writer ternyata berbeda dengan saat saya menjadi seorang guru. Meskipun begitu saya tetap menggunakan laptop saya untuk menunjang pekerjaan saya. Apalagi sekarang saya benar-benar bergantung pada laptop.

dari-hobi-menjadi-profesi-2
laptop andalan di kantor

Alih profesi ini benar-benar membuat banyak perubahan dalam kebiasaan saya menggunakan laptop. Misalnya saja ketika harus membuat tab dalam sebuah browser, saat menjadi guru, paling-paling tab yang saya buka kurang dari 5 tabs.

Sedangkan setelah menjadi seorang content writer, malahan saya menggunakan monitor tambahan untuk dapat membuka tab lebih banyak. Soalnya saya harus membuat konten yang well written dan lebih berkualitas dibandingkan konten yang sudah terindeks di search engine Google.

Bayangkan saja, untuk membuat satu artikel, terkadang saya harus membaca lebih dari 10 sumber artikel terlebih dahulu. Belum lagi saya harus memonitor email masuk, satu tab google analytics yang menginformasikan traffic blog secara realtime, hingga messenger for business selain whatsapp dan LINE yang digunakan untuk berkomunikasi secara internal.

dari-hobi-menjadi-profesi-1
koleksi mainan sebagai dekorasi meja kerja

Dengan laptop yang lama, kadang-kadang load yang terlalu tinggi membuat browser menjadi not responding alias hang. Belum lagi jika digunakan secara non-stop lebih dari 8 jam berturut-turut setiap hari kerja membuat saya membutuhkan laptop dengan teknologi mutakhir seperti Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas.

switch-alpha-12-6
Switch Alpha 12 (acerid.com)

Selain itu, dengan fitur BlueLight Shield dari Acer. Saya tak perlu khawatir dengan radiasi cahaya biru dari laptop. Radiasi ini yang bikin mata cepat lelah dan bikin jadi kering. Ujungnya jadi kurang fokus dan kurang konsentrasi.

switch-alpha-12-5
Layar 12 inci yang memiliki resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) telah dilengkapi teknologi IPS (acerid.com)

Performa Tinggi dengan Pendingin LiquidLoop tanpa Kipas

Meskipun dipacu seharian non-stop, Switch Alpha 12 tidak mudah panas karena sistem pendinginnya sudah menggunakan sistem pendingin LiquidLoop. Itu loh sistem pendingin tanpa kipas melainkan menggunakan pipa berisikan cairan pendingin sehingga suhu prosesor Intel Core i Series tetap bekerja secara optimal.

switch-alpha-12-3
LiquidLoop bikin performa makin tahan lama dan tetap adem (acerid.com)

Oh iya, saya jadi ingat ada seorang pelajar SMP di Surabaya yang menciptakan helm dengan sistem pendingin juga. Cara kerjanya kurang lebih hampir sama. Cairan pendingin itu akan membuat kepala tetap nyaman dan adem meskipun saat berkendara dalam kondisi cuaca panas.

Berkat ciptaannya itu bahkan kini anak tersebut sudah mampu membeli dua apartemen dan sebuah mobil sedan dari royalti yang ia dapatkan dari ciptaannya tersebut.

Keunggulannya lagi, karena tanpa kipas pendingin, Switch Alpha 12 tidak perlu ventilasi udara. Ini yang jadi biang masuknya debu ke dalam laptop. Repot bersihin dan makan biaya. Apalagi kalau kipasnya udah usang, biasanya suaranya bikin bising banget.

Jadi, dengan Switch Alpha 12, laptop kamu bakal bebas debu dan bebas perawatan. Implikasinya lifetime laptop Switch Alpha 12 kamu jadi bisa lebih lama.

Sekali waktu pernah juga teman saya mengalami masalah saat laptopnya yang overheat dan langsung mati. Setelah dibawa ke tukang service ternyata masalahnya pada kipas yang mati. Setelah laptopnya dibuka ternyata sangat kotor karena memang belum pernah dibersihkan sejak pertama kali membeli.

Yang bikin nyesek, saat itu sedang masa persiapan UAS. Ia harus mengulang membuat soal kembali selagi laptopnya diperbaiki.

Masalah kipas ngadat memang sudah ada masanya, biasanya laptop yang berusia diatas 5 tahun akan mengalami hal serupa. Tapi, kalau pakai Switch Alpha 12 lifetime-nya bisa lebih lama karena tak mengandalkan kipas sebagai pendinginnya.

Intel Core Generasi ke-6

Nah, dengan Intel Core i Seriesnya juga saya tidak perlu risau lagi buka tab di browser banyak-banyak karena Switch Alpha 12 punya fitur Dewa. Prosesor i7 dan Memory hingga 8GB DDR3, didukung Storage 512GB SSD makin membuat kinerja sangat optimal.

switch-alpha-12
Layar bisa dicopot tanpa docking dan mudah dibawa kemana-mana saat traveling sekalipun (acerid.com)

Sebagai informasi aja, Storage SSD lebih canggih dibandingkan dengan Storage konvensional HDD. Selain lebih cepat karena menggunakan chip memory, SSD juga punya ukuran lebih kecil dan tidak mudah panas.

Ini salah satu yang menjadikan Switch Alpha 12 fleksibel, ringan, tipis dan sangat mudah untuk dibawa kemanapun juga. Saat traveling pun kerjaan masih bisa ditangani dengan Switch Alpha 12.

Oh ya, tips dari saya kalau laptop lemot lebih baik upgrade saja HDDnya ke SSDnya dulu dibandingkan harus upgrade Memorynya.

Nah, jeroan Switch Aplha 12 udah tidak diragukan lagi kecanggihannya. Hampir semua fitur unggulan dan teknologi mutakhir digunakan oleh Swith Aplha 12. Belum lagi monitornya menggunakan resolusi tinggi namun tetap nyaman di mata. Cocok banget buat content writer seperti saya yang bekerja seharian di depan laptop.

switch-alpha-12-1
Dalam kondisi penerangan redup tetap bisa mengetik dengan nyaman karena keybord tetap terlihat (acerid.com)

Keunggulan lain, monitor Switch Alpha 12 bisa dicopot dan tetap berfungsi sebagai tablet canggih. Ini yang dinamakan laptop hybrid. Memiliki dua fungsi sebagai laptop sekaligus tablet tanpa mengurangi fiturnya.

Laptop hyrid cocok banget buat saya yang suka traveling ke luar kota. Soalnya saat di luar kota, saya tetap harus menulis laporan langsung dari laptop. Kalau pakai Switch Alpha 12 kan enak, lebih enteng dan gampang dibawa kemana-mana tanpa membawa keyboardnya.

Sketch Langsung dari Layar Switch Alpha 12

Oh ya, keunggulan lain Switch Alpha 12 punya pena digital lebih canggih dari sekadar stylus biasa. Cocok banget buat kamu para desainer dan komikus yang suka sketching sambil nunggu waktu entah itu di Bandara atau di lobby hotel.

switch-alpha-12-2
Stylus canggih yang membantu pekerjaan desain (acerid.com)

Fitur kickstand layarnya juga bikin nyaman dengan sudut yang diinginkan entah itu ketika ingin menggambar atau ngetik sambil menikmati senja di pinggir pantai. Kalau buat yang doyan nonton drama korea sambil tidur-tiduran sih kickstand ini ngebantu banget sambil leyeh-leyeh di kasur atau di sofa.

Buat saya yang banyak bergantung dengan laptop, Switch Alpha 12 pas banget. Saya emang butuh laptop yang high tech tapi tetap fleksibel dibawa kemana aja. Tak makan banyak tempat dan ringan untuk digenggam sekalipun.

Apalagi sekarang tuntutan ngeblog udah tambah lagi dengan membuat konten video. Wah, laptop saya yang lama kalau buka program video editing sekaligus ngerjain kerjaan lain biasanya suka lag dan berhenti sendiri. Sedihnya itu pas proses rendering. Duh, rasanya pengen guling-guling deh kalau udah beres ngedit tapi gagal dan harus mengulang lagi dari awal.

Salah satu yang gak boleh luput adalah tipe USB Switch Alpha 12 yang sudah menggunakan generasi USB 3.1 Type-C. Ini penting banget buat transfer data video dari kamera dengan ukuran bergiga-giga. Satu kali traveling kadang bisa sampai 16 GB untuk satu tempat karena menggunakan kamera kualitas HD.

switch-alpha-12-4
Proses transfer data tak perlu menunggu lama (acerid.com)

Kalau pakai Switch Alpha 12, transfer data sebesar apapun jadi lebih cepat, soalnya kecepatan transfer USB-nya bisa sampai 5 Gbps. Ya, mindahin 1 GB data aja gak makan waktu sampai 2 menit kok! Outstanding kan?

Nah, bagi saya yang dari dulu menekuni hobi menulis, Switch Alpha 12 sangat menunjang kebutuhan saya sebagai content writer. Saya sepertinya harus mulai menabung untuk memiliki laptop hybrid idaman ini.

Kalau kamu gimana?   

Acer Switchable Me 

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Published in Blog Competition Tekno

11 Comments

  1. Kalau peralatannya baru pasti asik dah

  2. @aprie haha jadi sama ya kita banting setir juga. thanks ya Aprie 🙂

  3. Ya ampun, Mas Dzul. Aku baru baca kisah lengkapmu di sini. JAdi berkaca ke diri sendiri juga. Reviewnya bagus! Semoga menang, ya.

  4. iya mas, tp skrg juga saya masih dpt penghasilan tetap kok

  5. menurut saya keputusan yang sangat berani Mas… karena kita tahu guru kan sdh memiliki penghasilan yang tetap

  6. bagus dan yang bagus itu harganya gak murah hehe, ada kualitas ada harga.

  7. makasih bang, semoga bisa menghibur ya klo ga bisa menginspirasi hahaha

  8. hallo cum, gw merasa terhormat klo ada blogger femes komen di lapak gw hahaha… iya lah cum kapan lo tobat…hahaha

  9. Wakssss tobat profesi ini nampar banget …. Kamu ngak merindu mengajar kembali ????

  10. Hahaha…. Mantaappp bang zull…

  11. Intan Rosmadewi Intan Rosmadewi

    Assyiiik juga ni Acer Alfha 12 huhuy kata Sule magh ya . . . ya . . .ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *