Terjebak Selama 16 Jam di Bandara Changi Singapura Gara-Gara Hal Sepele

Terjebak Selama 16 Jam di Bandara Changi Singapura Gara-Gara Hal Sepele

February 28, 2018 54 By Dzulfikar

Seumur-umur baru kali ini saya bisa mewujudkan impian travel saya ke luar negeri. Berbekal memenangi lomba blog dengan hadiah jalan-jalan ke Macau, untuk yang pertama kalinya saya bisa menghirup udara di luar negeri. Duileh ke mana aja yak tong!

Karena mendapatkan beberapa saran dari teman yang pernah berkunjung ke Macau, akhirnya saya memperpanjang liburan dengan mengunjungi Hong Kong. Mengingat saya pulang dari Hong Kong, membuat saya mengubah rute dan mengganti maskapai penerbangan. Saya pun memilih rute penerbangan ke Jakarta melalui Singapura. Sebelumnya, ketika berangkat dari Jakarta ke Macau, pesawat yang saya tumpangi transit di Kuala Lumpur.

Alasannya sih sederhana. Saya itu penganut falsafah “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui” hahaha, jadi, daripada enggak sama sekali ke Singapura, lebih baik saya manfaatkan saja saat itu juga. Sengaja juga sih saya memilih penerbangan dengan durasi transit hingga 16 jam. Maksudnya supaya bisa ikut tour gratis yang disediakan oleh Bandara Changi. Jadi gak perlu ribet beli STP Card atau turun naik MRT buat keliling heritage site di Singapura.

Bandara Changi Singapura

Setelah kunjungan dari Macau dan Hong Kong usai, saatnya terbang ke Singapura untuk yang pertama kalinya. Negeri Singa Putih ini memang terkenal lo di kalangan solo traveler dan backpacker pemula yang hendak traveling ke luar negeri.

Makanya, untuk menjawab rasa penasaran saya tentang patung Merlion Singapura, sepertinya waktu transit selama 16 jam dirasa cukup untuk sekadar berfoto di depan patung Singa dengan setengah badan ikan tersebut. Udah terbayang-bayang udah mau posting fotonya di Instagram waktu tiba pertama kali di Bandara Changi Singapura.

via GIPHY

Pesawat yang saya tumpangi kebetulan memang tiba di Singapura pada pukul 02.00 pagi waktu setempat. Jadi, daripada menyewa hotel lebih baik saya menginap sesaat di Terminal Transit Bandara Changi Singapura. Ya, intinya sih emang gak ada duit lebih buat nyewa hotel hahaha. Hotel di Singapura mahal bo!

Beruntung, saya sudah membaca banyak referensi tentang cara menginap di Bandara Changi Singapura. Asal punya tiket lanjutan di hari yang sama, mau menginap di lounge transit pun sebetulnya aman saja. Tapi, karena sudah terlalu lelah, akhirnya saya bergabung dengan traveler lain yang sudah meringkuk di beberapa sofa kafe hingga sofa-sofa yang disediakan untuk penumpang saat menunggu penerbangan selanjutnya.

Bandara Changi Singapura

Seketika suasana Bandara Changi malam itu mengingatkan saya pada suasana mudik. Semua orang memanfaatkan lahan kosong untuk beristirahat, sekadar merebahkan tubuh untuk memulihkan tenaga agar bisa melanjutkan perjalanan ke kampung halaman.

Bandara Changi yang mewah itu menjadi berbanding terbalik kondisinya pada malam hari. Hampir semua sofa yang ada, sudah dibooking penuh oleh traveler dari berbagai negara yang berbeda. Bahkan beberapa bule pun dengan cuek tidur di lantai. Jangan salah, semua lantai di Bandara Changi Singapura berkarpet tebal, jadi jangan bayangkan seperti menginap di pom bensin saat mudik ya.

***

Singkat cerita akhirnya pagi pun datang. Satu persatu beberapa traveler melanjutkan perjalanannya. Sementara itu saya langsung mencari mushola untuk menunaikan salat subuh. Saat transit di KL saya sempat kecele. Saya pikir waktu subuh di KL sama dengan di Indonesia. Ternyata subuh di KL dan di Singapura baru masuk sekitar pukul 06.00 kurang.  Enak banget ya? Cocok buat saya yang suka telat bangun bagi hahaha.

Pagi itu saya merasa bukan berada di Singapura. Pasalnya banyak juga jamaah umroh dari Indonesia yang sama-sama hendak menunaikan salat subuh. Saat kumpul menunggu bedug subuh, suasana tiba-tiba guyup. Satu persatu mengenalkan diri seperti kerabat yang sudah lama tak bersua. Hingga akhirnya percakapan mereka pun terhenti ketika adzan berkumandang.

Bandara Changi Singapura

Setelah menunaikan salat, barulah saya mencari-cari informasi tentang wisata gratis yang disediakan oleh Bandara Changi bagi para penumpang yang sedang transit.

Jadwal tour gratis di Bandara Changi Singapura dibagi menjadi empat sesi dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 18.00. Saya berharap justru bisa mendapatkan jadwal paling pagi. Apa daya, ternyata peminatnya sangat banyak sehingga saya diberikan pilihan jadwal pada siang hari pukul 11.00 siang. Sementara penerbangan saya ke Jakarta pada pukul 19.00. Jadi, tidak mungkin jika mengambil yang sesi selanjutnya.

Karena harus menunggu jadwal wisata gratis selama 4 jam lamanya, saya memutuskan untuk mencari staff canteen. Dari beberapa blog yang saya baca, menu dan harga makanan di staff canteen jauh lebih ramah bagi para backpacker maupun traveler yang memiliki bujet terbatas daripada makan di terminal bandara Changi.

Berbekal internet gratis yang putus setiap 30 menit sekali, akhirnya saya pun mulai mencari tahu bagaimana cara menemukan staff canteen. Saat itu posisi saya berada di terminal transit 2. Setelah bertanya pada bagian informasi, ternyata staff canteen berada di luar imigrasi. Artinya saya harus keluar dari terminal transit dulu untuk bisa sarapan pagi terlebih dahulu.

Bandara Changi Singapura

Dengan santai saya pun akhirnya melenggang dengan mudah melewati pintu imigrasi. Tidak seperti yang diceritakan orang-orang yang hendak travel ke Singapura. Apalagi pagi itu suasana imigrasi masih lengang.

Tak jauh dari sebuah restoran cepat saji, saya lalu menuju gedung parkir di sebelahnya. Staff Canteen di Terminal 2 Bandara Changi berada di atas Gedung Parkir Lantai 3M.  Saat berhasil menemukan staff canteen rasanya seperti baru menemukan harta karun. Senangnya bukan main! Bahkan saya sempat ngevlog beberapa saat.

via GIPHY

Makanan di staff canteen benar-benar murah. Yang saya salut sama Singapura, semua makanan di Bandara sudah ada informasinya mana yang halal dan mana yang non halal. Akhirnya saya memesan nasi lemak dengan taburan irisan telur dadar dengan secuil sambal dan dua lapis roti sandwich dengan sajian teh manis hangat. Total semua hanya $4.5 SGD. Jangan dibandingkan dengan makan di Jakarta ya!

Setelah sarapan selesai, saya pun kembali masuk ke bandara. Ternyata prosesnya lebih mudah dibandingkan saat keluar. Tinggal tap paspor saja, kemudian pintu terbuka.

***

Karena saat tour tidak diizinkan membawa barang-barang, saya pun menitipan koper saya di tempat penitipan barang. Harga sewanya $3,20 SGD dengan koper saya yang beratnya tidak lebih dari 10kg. Harga tersebut sudah dikorting setengah hari. Petugasnya sudah paham setelah melihat tiket yang saya bawa.

Bandara Changi Singapura

Setelah itu saya kembali menunggu di konter wisata gratis yang berada dekat sekali dengan Orchid Garden.  Saya sudah siapkan kamera dan mengisi ulang agar tidak perlu kesulitan saat jalan jalan nanti. Begitu pikir saya.

Tak berapa lama, akhirnya seorang ibu-ibu dengan seragam berwarna hijau muda menghampiri konter wisata gratis. Di tangan kanannya membawa sebuah papan nama berisi wisatawan yang ikut wisata gratis bersamanya. Ia langsung menginstruksikan untuk membawa perlengkapan seperlunya dan turun menuju bus yang sudah disediakan.

Bandara Changi Singapura

Kami pun turun dengan tenang membawa barang masing-masing. Saya hanya membawa sebuah tas kecil untuk menyimpan kamera, dompet, paspor serta tiket pesawat. Karena akan melewati imigrasi kembali, saya mencopot semua aksesori di tubuh termasuk ikat pinggang agar pemeriksaan lebih mudah. Siang itu ternyata antrean Imigrasi lebih padat daripada saat pagi hari. Bahkan beberapa jalur baru pun akhirnya dibuka untuk melayani semua wisatawan yang hendak masuk ke Singapura.

Bandara Changi Singapura

Tibalah giliran saya melewati imigrasi. Saya bersikap tenang dan sewajarnya. Senyum tipis saya lemparkan pada ibu-ibu separuh baya yang menjadi petugas imigrasi yang saya hadapi saat itu. Setelah memeriksa paspor dan tiket yang saya bawa, akhirnya ia meminta saya untuk menempelkan sidik jari.

Ketika saya menempelkan sidik jari saya, beberapa saat kemudian tiba-tiba alarm meraung dengan kencang. Waduh! Gawat! pikir saya. Tapi, karena saya sudah banyak membaca beberapa kasus random checking di Imigrasi Singapura, saya pun bersikap tenang dan sok cool. Meskipun hampir seisi ruangan saat itu menatap saya dengan tajam. Rasanya udah kayak copet yang tertangkap basah aja.

Bandara Changi Singapura

Ternyata saya tidak dibawa ke ruangan khusus, melainkan hanya diinformasikan bahwa saya sudah keluar dari imigrasi dan tidak bisa keluar untuk kedua kalinya pada waktu yang sama. Mengingat kejadian itu rasanya kok saya kurang kerjaan banget ya, datang pertama kalinya ke Singapura cuma buat makan di canteen staff doang hahahahaha.

via GIPHY

Enggak sedih sih, cuma saya kok ngerasa dong dong dong dong aja hahahaha. Beruntung saya terjebak di Bandara Changi yang dikenal sebagai salah satu bandara terbaik di dunia. Karena saya masih punya waktu selama 7 jam sebelum keberangkatan akhirnya saya habiskan waktu tersebut untuk wisata keliling bandara Changi seharian mulai dari Terminal 1, Terminal 3 dan kembali lagi ke Terminal 2 pada sore harinya.

Meskipun gagal wisata ke Singapura, ternyata menjadi berkah karena saya jadi tahu semua sudut Bandara Changi Singapura. Buat saya, ini pengalaman traveling saya yang paling berkesan saat pertama kali mengunjungi Singapura. Sepertinya suatu saat nanti, saya memang ditakdirkan untuk kembali.