Setelah mengunjungi Community Development Centre yang masih berada di desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, kemudian kami melanjutkan kunjungan ke sebuah Bank Sampah Lakmus yang masih berada di desa yang sama. Di KSB sendiri menurut Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Sudirman, menyebutkan ada lebih dari 10 ton sampah yang dikelola setiap hari. Β Dengan frekuensi dan jumlah sampah yang semakin meningkat, Bank Sampah Lakmus ini merupakan salah satu solusi untuk mengurangi sampah. Selain itu juga mampu memberikan keuntungan baik untuk para penabung atau nasabahnya dan juga pegawai yang bekerja di Bank Sampah Lakmus. Slogan Re-use, Re-duce dan Re-cycle ternyata sudah di terapkan di Maluk ini.

Menurut para petugas Bank Sampah Lakmus (BSL) sudah banyak nasabahnya yang mendapatkan keuntungan dari tabungan sampahnya selama ini. Bahkan hal tersebut mendorong anak-anak SD di desa Maluk untuk berbondong-bondong menabung sampah. Hal tersebut jelas memberikan dampak positif dengan keberadaan BSL. BSL merupakan inisiatif warga dibawah binaan PT Newmont Nusa Tenggara, KSB.

Bagi anak-anak SD, tabungan bank sampah mereka bisa menjadi tambahan uang saku atau bahkan untuk uang sekolah. Sedangkan bagi ibu rumah tangga dan keluarga bisa menjadi tambahan untuk membeli pulsa listrik atau pulsa handphone. Menarik bukan?

Selain di jual kembali oleh BSL, barang-barang yang merupakan sampah ini juga ada yang dibuat kedalam berbagai bentuk kerajinan tangan. Beberapa diantaranya seperti tas yang terbuat dari plastik bekas sabun cuci. Dengan mengubahnya menjadiΒ sebuah produk fungsional, sampah tersebut nilainya menjadi lebih tinggi.

Jika saja disetiap desa terdapat sebuah bank sampah, tentu akan mengurangi jumlah sampah yang harus di buang ke TPA. Pemberdayaan masyarakat yang memiliki dampak luas dan bernilai pendidikan seperti inilah yang terus di dukung dan dikembangkan PT NNT sebagai salah satu bentuk tanggung jawabnya terhadap masyarakat lingkar tambang.

Jika dikelola dengan baik, model pemberdayaan seperti BSL ini justru menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Bahkan bisa dimodifikasi sehingga menjadi keuntungan lain seperti asuransi sampah yang digagas oleh salah seorang dokter di Malang, Jawa Timur. Gamal Albinsaid telah memulainya dengan mendirikan klinik asuransi sampah.

Semua nasabah atau masyarakat dapat menikmati pemeriksaan kesehatan termasuk obat secara gratis dengan sampah-sampah yang disetorkan ke Klinik Asuransi Sampah. Disaat asuransi hanya milik kalangan atas, ternyata Sampah bisa menjadi solusi untuk jaminan kesehatan.

Selain dokter Gamal ada juga Febriarti Khairunnisa yang membuat usaha daur ulang sampah di Lombok, NTB. Dari usahanya tersebut bukan hanya tambahan uang sekolah untuk anak-anaknya tetapi juga bisa mendapatkan penghargaan karena dedikasinya sehingga dinobatkan menjadi Indonesian Women of Change (IWoC) Awards dari Kedubes AS.

Indonesia sebetulnya memiliki kekuatan dalam pengelolaan sampah. Menurut data kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2013, seluruh bank sampah yang berada di Indonesia secara nasional mampu menghasilkan uang hingga mencapai Rp. 15,7 miliar perbulan. Dengan dana seperti itu, pemberdayaan masyarakat memang benar-benar memerlukan perhatian khusus agar dibina dan diarahkan lebih khusus lagi.

Dengan sampah nantinya masyarakat tidak perlu lagi membayar asuransi kesehatan bahkan tidak perlu lagi membayar uang sekolah karena sudah di cover oleh tabungan di bank sampah. So, jangan pernah remehkan sampah!

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+