Skip to content →

Bisakah Pendidikan Seks diajarkan melalui Komik?

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Selasa lalu (3/11) usai menjadi pengawas di salah satu ruang kelas, saya memergoki beberapa anak SMP yang sedang asyik baca komik di koridor kelas. Yap baca komik saat istirahat dimana mereka masih dalam pekan Ujian Akhir Sekolah semester Gasal. Tanpa basa basi saya langsung saja menyita dua buah komik yang tengah mereka nikmati bersama. Saking khusuknya, mereka tidak menyadari keberadaan saya. Dengan gaya ala detektif saya mengendap-endap kemudian hap, lalu saya sergap kedua komik itu.

Tentu saja mereka kaget tak karuan. Si pemilik komik hanya tertawa dan barangkali sudah menyadari konsekwensi yang akan didapat. Apalagi di sekolah, saya dikenal sebagai guru yang tidak pandang bulu. Soalnya saya geli sama bulu-bulu hahaha. Sorry, tapi memang benar saya selalu berusaha untuk bersikap obektif dan menerapkan disiplin tinggi. Meskipun tidak terpilih jadi guru paling disiplin hahaha. #curcol

Tapi, justru saya yang lebih kaget setelah sadar bahwa dua komik yang telah saya sita ternyata komik dewasa. Didalam gambar tersebut, dengan jelas menunjukkan adegan tidak senonoh dua orang remaja putra dan puteri. Astagfirullah batin saya sambil membolak balik lembaran-lembaran komik wkwkwkw #dikeplakblogger

Saya tidak langsung mengambil tindakan karena anak-anak yang kepergok baca komik dewasa saat pekan UAS memiliki wali kelas. Jadi, prosedurnya saya lebih baik menyerahkan kepada wali kelas mereka. Wali kelas mereka kontan sangat kaget, apalagi wali kelasnya seorang perempuan. Dia juga keliatan kagok ketika memeriksa isi komiknya.

Setelah UAS mata pelajaran kedua selesai, akhirnya anak-anak tadi dipanggil oleh wali kelasnya. Ironisnya sang pemilik komik mengaku bahwa dia membelinya atas izin orang tua. Bisa jadi orang tua tidak memeriksa isinya dan hanya melihat sampulnya.

Yang lebih parahnya dengan polos dia mengaku komik itu dibeli di toko buku besar di bagian komik anak-anak! WHAT!!! are you kidding me? Saya tak habis pikir apa iya toko besar yang memiliki reputasi baik bisa menjual komik dewasa dan ditempatkan di bagian komik anak-anak? Jawaban anak itu memang membuat otak saya berpikir keras mengapa hal demikian bisa terjadi.

Tapi saya juga mencoba untuk berpikir berimbang. Ah barangkali anak ini berbohong untuk menutupi kesalahannya. Tapi dari roman dan air mukanya, sepertinya ia bicara cukup jujur. Wah jadi bingung kalau gini. Dihukum salah dibiarkan malah tambah salah.

Akhirnya wali kelasnya meminta anak-anak tersebut berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan mereka. Karena sudah jelas dalam buku panduan siswa bahwa segala macam jenis komik tidak diizinkan dibawa ke sekolah. Kecuali komik yang sudah disediakan di perpustakaan sekolah yang tentu saja sudah di sortir terlebih dahulu.

Saya jadi berpikir terbalik, mungkin bisa saja pendidikan seks itu diajarkan melalui sebuah komik. Misalnya ada bab kesehatan reproduksi dalam Biologi. Tapi konten dan gambarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan dan kepentingan pendidikan bukan untuk mengumbar pornografi. Tapiiii, saya sadar pasti akan banyak menimbulkan kontroversi karena membicarakan seks adalah hal yang tabu di negeri ini, meski kadang ada materinya dalam biologi.

Jika saya menjadi siswa, tentu saya akan lebih senang memelajari sesuatu hal dengan cara dan media yang lebih menyenangkan. Komik adalah salah satu media yang sebetulnya bisa dimaksimalkan untuk pendidikan. Tapi, sepertinya memang masih sedikit sekali yang dapat memaksimalkan komik sebagai salah satu media pembelajaran.

Kedepan inilah tantangan bagi para guru dan pendidik untuk terus berinovasi secara kreatif agar anak-anak kita bisa diselamatkan dari ancaman pornografi dan pornoaksi yang begitu massive melalui penyebaran media elektronik dan terutama yang belakangan marak adalah melalui media sosial.

Guru, Orang Tua, Pemangku kebijakan tidak boleh lepas tangan. Harus diformulasikan agar tercapai sebuah cara membentengi anak-anak dari bahaya pornografi. Dengan begitu anak-anak bisa terelamatkan. Mereka butuh bimbingan dan perhatian agar dapat pula mencagah dan meminimalisasi penyebaran virus AIDS yang mematikan dan salah satunya menyebar melalui pergulan bebas atau free sex.

Benar, saya berpendapat kondom bukanlah solusi. Karena menurut beberapa artikel yang saya baca, virus HIV bisa menembus pori-pori kondom. Jadi bagi saya rasanya kurang tepat jika kondom dijadikan alat media kampanye bebas HIV atau AIDS.

Sebelum pembicaraanya melebar, mungkin orang tua dan guru bisa kembali bertanya dari hati ke hati apa sebetulnya yang anak-anak butuhkan. Berdasarkan pendapat para pemerhati anti pornografi akses anak-anak terhadap konten dewasa sudah semakin menggurita dan dalam taraf yang menghawatirkan. Disinilah peran guru dan orang tua untuk memberikan kesibukan yang positif terhadap anak-anak. Selain membentengi dengan agama dan budi pekerti. Anak-anak pun perlu di arahkan pada kegiatan yang mengasah kecerdasan motoriknya seperti olahraga atau bermain musik. Sehingga anak-anak cerdas yang tidak memiliki kegiatan dan kebanyakan nganggur dan kurang mendapat perhatian dari orang tuanya, sebaiknya diberikan kursus-kursus yang sesuai dengan bakat dan minatnya untuk mengembangkan keterampilannya.

Salam Hangat
@DzulfikarAlala

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Published in Opini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *