Satu satunya guru bangsa yang paling saya hormati adalah Buya Syafii Maarif.

Setelah gempa melanda Yogyakarta, Buya yang datang ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah untuk menggalang dana memperbaiki sekolah kader tersebut.

Bahkan kala itu Buya mendapatkan sumbangan dari alm. Taufik Keimas. Tak sedikit tokoh nasional yang ikut berdonasi karena melihat sosok Buya Syafii dibalik proyek penggalangan dana perbaikan sekolah.

Sedih. Kini beberapa Alumni sekolah Kader Muhammadiyah sendirilah yang mencaci dan menyudutkan Buya lantaran perbedaan pendapat.

Mereka terbawa arus efouria demo 411 hingga melupakan akhlak yang selama ini pernah diajarkan di Madrasah.

Guru guru di Madrasah kerap memberikan suri tauladan yang mencerminkan perilaku seorang muslim yang toleran dan menghargai perbedaan.

Kini, apa gerangan yang membuat mereka hingga mencaci Buya Syafii sedemikian keji?

Apa gerangan yang membuat mereka lebih memuliakan seorang Kyai muda pandai melucu dibandingkan orang tua yg lekat dengan kesederhanaan ini?

Buya tahu betul risiko yang dihadapinya. Buya paham betul berhadapan dengan siapa. Buya akan selalu berada dalam barisan depan untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang batil itu batil.

Amr Maruf Nahi Munkar tercermin pada sosok teduh nan berwibaya, Buya Syafii.

Beruntung Muhammadiyah memiliki tokoh seperti Buya.

I stand by you Buya Syafii.

Baca republika

Prof. Syafii Maarif itu mengajarkan teladan dengan sikapnya. Bukan hanya dengan ceramah-ceramahnya saja.

beritasatu.com

beritasatu.com

Jadi, kalau Anda mengatakan Prof.Syafii itu munafik, tuduhan keji Anda itu salah alamat!

Salah satu mahasiswanya begitu apik menceritakan sosok Prof. Syafii, mendedikasikan dirinya untuk pendidikan dan Muhammadiyah.

Saya rasa kita sama sama tahu bagaimana proses pendidikan di bangku kuliah.

Semoga makin paham kualitas dan kelas Prof Syafii dgn penunggang Pajero terbaru itu….

Baca Tirto

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+