Kasus video asusila milik pelajar SMP membuat sedih para orang tua dan pendidik. Bagaimana tidak? Mereka, pelaku, melakukan hal tersebut di sekolah. Sekolah tempat mereka menimba ilmu justru dirasakan menjadi tempat yang cukup aman melakukan hal-hal tidak senonoh.

Saya teringat pengalaman seorang sahabat yang pernah bermukin di Australia. Di halaman facebooknya dia bercerita bahwa berbeda sekali peran guru TK di Indonesia dan di Australia. Ia mengomentari peranan guru TK ketika sesi istirahat. Guru-guru TK di Australia begitu telaten dan memperhatikan anak-anaknya bermain di luar kelas. Sementara ia melihat dan membandingkan bahwa guru TK di sekolahnya di Indonesia tidak melakukan hal yang sama.

Bukan bermaksud mengeneralisasi apa yang terjadi dalam sepotong kisah tersebut. Namun memang terkadang, saya juga melihat kasus yang sama. Disaat istirahat, bukan malah gurunya yang mendampingi, melainkan terkadang orang tuanya yang mengantar yang harus menjaga anak-anaknya bermain di area bermain. Perlu saya tekankan sekali lagi, hal ini tidak terjadi di semua sekolah. Hanya beberapa sekolah saja yang pernah saya saksikan sendiri. Apalagi di beberapa sekolah sudah jelas aturannya bahwa pada saat KBM orang tua tidak diperkenankan memasuki ruang belajar tanpa alasan kuat.

Apa yang ingin saya katakan adalah pengawasan guru di sekolah bisa saja lemah. Area sekolah banyak sekali terdapat blind spot yang tidak tersentuh para guru sekalipun. Terutama pada jam-jam sibuk seperti istirahat, salat jumat dan pulang sekolah. Saat-saat itulah kenyataan yang terjadi antara guru dan murid bisa jadi sibuk dengan urusannya masing-masing. Padahal dalam momen seperti itu guru bisa menggunakannya untuk melakukan pembinaan secara personal atau kelompok dalam suasana yang santai entah itu di kantin atau ruang publik di area sekolah lainnya.

Saya mencatat kejadian video asusila tersebut terjadi ditengah waktu salat Jumat. Tentu saja seluruh pengajar laki-laki wajib menunaikan kewajibannya. Sementara guru perempuan bisa memberikan kegiatan keputrian atau paling tidak berkeliling di area sekolah untuk melakukan patroli. Terkadang ada saja siswa yang beralasan tidak ikut Jumatan.

Tentu saja hal ini bukan juga sepenuhnya kesalahan guru, ada peran dan tanggung jawab orang tua disitu. Namun demikian, jika keberadaan guru piket bisa dioptimalkan, hal-hal tersebut dapat dicegah. Guru piket sepenuhnya bertugas di meja piket atau ruang piket. Tapi terkadang masih ada juga guru piket yang justru tidak piket karena kejar setoran KBM demi memenuhi persyaratan tunjangan sertifikasi. Kalau sudah begini kita hanya bisa mengelus dada.

Salam Hangat

@DzulfikarAlala

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+