Sore tadi (14/11/2016) saya sedikit menendang sebuah motor yang menerobos lampu merah di daerah Seskoal.

Oh ya, saya tak peduli klo dia seorang marinir sekalipun. Disaksikan begitu banyak mata, dia bebas saja menerobos lampu merah tanpa rasa berdosa.

Akibatnya lalulintas sempat tersendat. Refleks kaki saya menendang bodi motornya saat ia memaksa meminta jalan pada saya. Ya terpaksa saya kasih karena tak ada jalan lain.


Hitung hitungan saya, kalau dia marah dan mengejar saya, minimal jalan di depan saya sudah lowong dan siap kabur hahaha.

Tapi akhirnya orang itu malah ngeloyor juga.

Tak berapa lama…saat antre mengisi bensin di Tanah Kusir, saya pun hampir adu jotos dengan seorang remaja tanggung.

Hanya berselang empat motor dari pompa bensin, ia dengan santai merokok di atas motor maticnya dalam kondisi mesin masih menyala.
Saya tunggu beberapa saat. Pria dewasa dibelakangnya tampak diam dan tidak berusaha menegur remaja itu.

Kemudian saya turun dari motor dan bergegas menghampirinya.

“Bro, rokoknya dimatikan bro!” ujar saya.

Melihat saya menegurnya ia seperti gelagapan dan salah tingkah. Bukannya mematikan rokok, ia malah mematikan mesin motornya.

Pfftt jujur saya pengen ketawa juga saat dia salah tingkah. Tapi, saya tahan.

“Rokok bro, bukan motor!” ulang saya.
“Lu pikir gw mau meledak bareng apa?” gerutu saya.

Tanpa banyak tanya lagi, ia langsung mematikan rokoknya.

Pria dewasa yg diam tadi baru ngoceh.

“Parah banget emang tuh bocah, bang. Santai banget ngerokok di pom bensin”

“Iya” timpal saya malas meladeninya.

See….?

Hitung hitungan saya nih, klo saya jadi adu jotos sama dia, ya saya tetap berantem sambil pakai helm lah haha. Bocahnya tinggi banget bro hahaha.

Dalam perjalanan saya merenung. Saya kok berani banget ya cari masalah. Tapi, saya kok merasa yakin kalau apa yang saya bela itu memang benar.

Ya, minimal kalau saya pulang tinggal nama, saya sudah berjuang menegakkan kebenaran. Meski kecil, tapi kedua hal tersebut sudah merupakan bentuk jihad buat saya.

Jihad itu tidak bisa diartikan secara sempit apalagi dengan menyerang orang lain yang tak seiman. Terlebih korbannya merupakan anak anak yang tak berdosa.

Jihad itu harus dimaknai secara universal. Jihad seorang suami adalah menafkahi anak dan istrinya dengan rezeki yang halal.

Jihad seorang warga negara itu mencegah perbuatan makar kelompok kelompok tertentu yang berusaha menggoyang dan mememecah belah kesatuan dan persatuan.

Jihad itu bukan melempar bom molotov ke kerumunan anak anak yg sedang menunggu orang tuanya beribadah.

Jihad itu berani berkata benar meskipun menyakitkan bagi orang lain.

Jihad itu tidak duduk dan diam melihat kemunkaran merajalela.

Jihad itu bukan hanya milik sekelompok orang yang bersorban kemudian memekikkan gantung, bakar dan penggal!

Jihad itu seperti pemuda banser yg harus menjadi martir melindungi umat lain yang sedang beribadah.

Maaf kan kami dek Intan, ternyata kami salah memaknai Jihad selama ini sehingga engkau menjadi korban. #RIPIntan

Baca Kompas

kompas.com

kompas.com

Jihad Melawan Mafia Cabai

Hebat, siapa sangka pemuda ini bisa melawan mafia cabai hingga mafia mafia itu rugi hingga 2 milyar.

Tunov adalah pemuda yg berjihad membela petani cabai yg selalu menjadi korban permainan harga mafia cabai.

Para mafia itu membeli cabai dengan harga murah dari petani dan menjual dengan harga langit di pasaran.

Tunov dengan latar belakang seni rupa dan desain memilih jalan sunyi, membina petani, menyatukan petani cabai di Magelang dan sekitarnya dengan impian menguasai 30 persen pasar cabai di Jakarta.

Gila, setiap hari pasokan cabai ke Jakarta mencapai 120 ton, dan selama ini hanya mafia yg menikmati keuntungannya.

Tunov dan kawan kawan memotong jalur mafia dan memperjuangkan hak petani dengan cara operasi pasar dan lelang cabai.

Kini Tunov menjadi pembina sekaligus pemimpin 700 petani cabai di daerah Magelang dan sekitarnya.

“Ulah” Tunov jelas diancam dan diteror mafia yg selama ini mengeruk urat dan tulang jerih payah petani cabai.

Tunov, tujuh November begitulah ayahnya memberikan nama, bergeming dengan ancaman dan teror dari mafia.

Inspirasi jihad dari seorang pejuang yg membela petani, kaum yg kerap terpinggirkan dan kerap terlupakan.

Semoga sehat selalu mas Tunov. Semoga bisa menjadi menginspirasi gerakan “perlawanan” petani lain terhadap tengkulak dan para mafia busuk.

jihad

Kompas Cetak Edisi 15 November 2016 – SOSOK

Baca Print Kompas

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+