Jika Bisa ke Raja Ampat Sekali Lagi, Ini yang Akan Saya Lakukan

Jika Bisa ke Raja Ampat Sekali Lagi, Ini yang Akan Saya Lakukan

March 8, 2018 13 By Dzulfikar

Pengalaman ke Raja Ampat dengan menumpang KRI Banda Aceh 509 medio 2015 lalu memang seperti baru saja kemarin berlalu. Masih ingat betapa jernihnya air laut di Pantai Cemara Waisai, indahnya bintang laut berwarna jingga, dan uniknya bercengkrama dengan warga lokal di sekitar dermaga.

Pengalaman pertama kali itulah yang membuat saya kangen dengan Raja Ampat. Soalnya masih banyak tempat-tempat yang belum bisa saya eksplorasi dalam waktu singkat. Jika ada kesempatan lagi nanti, ada banyak aktivitas yang ingin saya lakukan di Raja Ampat. Mulai dari snorkeling di Aborek hingga diving di Mike’s Point.

***

Pengalaman pertama kali ke Raja Ampat setidaknya memberikan banyak informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan dari warga lokal. Kata mereka, orang Indonesia itu biasanya hanya bisa ke Raja Ampat sekali seumur hidup. Yang kedua kalinya biasanya kalau bukan tugas kerja, ya mendapatkan hadiah trip wisata.

Tapi, saya justru tertantang untuk mematahkan mitos tersebut. Setidaknya selama masih ada umur, saya ingin ke Raja Ampat untuk yang kedua kalinya.  Salah satu informasi penting yang harus saya pegang adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Raja Ampat.

Saat pertama kali mengunjungi Raja Ampat pada pertengahan tahun benar-benar waktu yang kurang tepat. Soalnya visibilitas di dalam air kurang baik. Bahkan gelombang laut kurang bersahabat. Itulah sebabnya banyak yang menyarankan untuk traveling ke Raja Ampat antara bulan November hingga Desember.

Pesan Tiket dan Booking Hotel Lebih Awal

Supaya tidak kehabisan tiket pesawat dan bisa mendapatkan tiket murah ke Papua, cus langsung aja booking tiket pesawat ke Sorong, Papua lewat tiket.com. Pemesanan melalui tiket.com sangat mudah kok. Tinggal masukkan asal keberangkatan, tujuan, tanggal keberangkatan dan tanggal pulang serta jumlah penumpang. Kemudian cari #TiketKemanapun sesuai dengan destinasi impian kamu.

Menariknya lagi jika melakukan pemesanan di tiket.com, kamu langsung diberikan opsi atau rekomendasi tiket paling murah untuk tiket pulang pergi. Contohnya saja untuk pemesanan tiket pesawat ke Sorong pada tanggal 6 November 2018 dan pulang tanggal 13 November 2018 hanya Rp 3 jutaan aja. Worth it banget bukan? Udah pakai maskapai terbaik pula. Pssstt.. jangan lupa gunakan diskon yang ditawarkan tiket.com supaya bujet traveling makin hemat.

Nah buat kamu yang udah gak sabar ingin menikmati sunrise dan sunset di Raja Ampat, enaknya pesan tiket pesawat di tiket.com, semua bisa dicicil dengan tenor yang bisa disesuaikan dengan kemampuan.

Kita bisa banget pilih mulai dari cicilan 3, 6 sampai dengan 12 kali sesuai dengan penyedia cicilan tiket pesawat yang bekerja sama dengan tiket.com. Pasti kamu punya salah satunya dong?

Nah, sesudah booking tiket pesawat, persiapan selanjutnya adalah mencari hotel murah di Raja Ampat. Jangan salah, sekarang Raja Ampat makin ramah lo sama backpacker. Contoh nih, lewat tiket.com saya bisa dapetin hostel muraaaah banget. Semalam cuma kena sekitar Rp 300 ribuan aja.

Nah, supaya lebih murah sih enaknya saya ngajakin temen kali ya. Apalagi kalau rombongan. Minimal 8 atau 10 orang deh. Soalnya nanti saat nyewa kapal bisa bagi-bagi biaya. Jatuhnya jadi lebih murah jika dibandingkan dengan traveling sendirian.

Tapi, kalau kamu memang lebih nyaman solo traveling, jangan khawatir. Soalnya di Waisai juga ada beberapa open trip yang menyediakan tumpangan buat para solo traveler. Jadi, kamu bisa gabung sama rombongan lain plus dapet kenalan baru deh.

Aktivitas yang Ingin saya Lakukan di Raja Ampat

Sebelum nyebur bagusnya isi perut dulu dong. Nah, ada beberapa makanan khas Papua yang belum pernah saya coba. Kalau soal ikan bakar sih jangan ditanya ya. Alam papua yang melimpah menjadi salah satu berkah mendapatkan ikan-ikan segar dan tidak terkontaminasi oleh logam berat.

Wisata Kuliner

Belum sah rasanya jika ke Raja Ampat tapi belum mencicipi Papeda. Meskipun makanan ini juga bisa kita dapatkan di Ambon, tapi rasa dan kuahnya pastilah berbeda.

Nah, yang ekstrim sepertinya harus nyobain juga sate ulat sagu. Kalau orang Papua biasanya langsung menyantap ulat sagu hidup-hidup. Hmmm,,, seperti apa ya rasanya. Antara penasaran sama ngeri campur jadi satu.

Snorkeling dan Diving

Banyak wisatawan asing yang datang jauh-jauh ke Papua hanya ingin menikmati pesona bawah lautnya. Begitu juga dengan saya. Masih belum puas rasanya snorkeling di dermaga pantai Cemara.

Saking indahnya pantai-pantai di Papua. Kita tidak perlu jauh-jauh ke tengah laut untuk menikmati karang dan ikan warna warni yang berenang dengan bebas. Dari dermaga pantai saja kita sudah bisa snorkeling seharian di beberapa titik. Salah satunya adalah Desa Aborek.

Di tempat ini menurut beberapa wisatawan, kita bisa bercengkrama langsung dengan schooling fish. Belum lagi koral dan karang yang warna warni. Supaya lengkap, saya harus mengabadikannya dengan action kamera. Siapa tahu bisa ikut membantu mempromosikan wisata anti mainstream di ujung Indonesia timur ini.

Nah, setelah puas snorkeling, akan lebih sempurna jika ditutup dengan diving. Kebetulan saya sudah punya lisensi open water. Sayang dong jauh-jauh ke Papua tapi enggak merasakan pesona bawah lautnya secara langsung.

Yang paling bikin saya penasaran adalah Manta’s Point dan Mike’s Point. Kedua dive point ini memang menjadi favorit diver dunia.¬† Manta’s Point tidak jauh dari Desa Aborek. Kalau beruntung, kita bisa bertemu dengan ikan pari lo,

Sedangkan Mike’s Point ini istimewa karena ada terowongan karang di dasar laut. Wah,,,makin penasaran banget gimana asyiknya melewati terowongan sambil disajikan warna warni karang yang membuat mata tak henti berkedip.

Donasi Buku

Kebiasaan ini sebetulnya terinspirasi dari teman-teman yang sudah lebih dulu melakukannya. Setiap traveling ke daerah-daerah terpencil, beberapa orang sengaja memenuhi kopernya dengan membawa buku.

Benar, buku itu jendela ilmu. Dan tak mungkin kita menutup mata bahwa saudara-saudara kita di Papua masih banyak yang kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan. Meskipun sudah ada internet, tapi buku tetap akan bermanfaat bagi mereka, membuka mata mereka dan membuat mereka penasaran melihat dunia.

Lewat buku, mudah-mudahan bisa menjadi perjalanan awal mereka membuat lembaran baru. Meningkatkan pengetahuan dan melecut semangat untuk tetap mau belajar.

Jika ada kesempatan lagi ke Raja Ampat, Papua. Saya ingin mengumpulkan beberapa buku dari teman-teman. Nantinya buku-buku tersebut akan saya sumbangkan pada rumah baca di desa setempat. Setidaknya itu yang bisa saya lakukan untuk anak-anak di Papua.

Oleh-Oleh Khas Papua

Nah, setelah wisata kuliner, snorkeling dan diving, saatnya kembali ke kehidupan realita hahaha. Biar enggak sedih-sedih amat, paling enak sih bawa oleh-oleh khas Papua.

Kita bisa mencari pernak-pernik menarik di Sorong sekaligus mencari oleh-oleh khas Papua lainnya seperti Sarang Semut, Kue Bagea dan Sagu Lempeng yang tahan lama untuk dibawa pulang.