Menyeruput Kopi Banaran di Perkebunan Seluas 400 Hektar

Menyeruput Kopi Banaran di Perkebunan Seluas 400 Hektar

April 29, 2018 10 By Dzulfikar

Awalnya saya pikir nama Kopi Banaran itu adalah sebuah nama tempat untuk ngopi anak- anak hipster seperti di Jakarta yang paling terkenal adalah Pasar Santa.

Ternyata dugaan saya salah. Kopi Banaran ternyata sebuah perkebunan kopi yang sangat luas. Luasnya diperkirakan sekitar 400 hektar di bawah pengelolaan PTPN IX yang kini menjadi salah satu wisata unggulan agrowisata di Bawen, Kabupaten Semarang.

Pantas saja jika kawasan Kampoeng Kopi Banaran menjadi salah satu wisata unggulan di Semarang. Udara sejuk bisa kita rasakan di sini meskipun tidak sesejuk di Puncak, Bogor ya.

Tapi, untuk ukuran kota Semarang yang dekat dengan laut. Agrowisata Kopi Banaran memang menjadi tempat yang tepat untuk wisata keluarga sekaligus menjadi tempat wisata bermain anak di Semarang.

Baca Kios Kecil Ini Jual 1000 Lumpia Semarang Sampai Ludes Tiap Liburan

Salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan adalah kereta wisata mengelilingi areal kebun Kopi Banaran. Kawasan agrowisata ini menurut pemandu kami bahwa tidak seluruh kawasan ditanami kopi, sebagian kecil ditanami beberapa pohon lain seperti kakao atau cokelat.

Beberapa kereta wisata alias mobil tipe jeep dengan dobel gardan ini sudah dimodifikasi sehingga terlihat lebih akrab dengan anak-anak. Tak ubahnya seperti naik odong-odong. Bau solar langsung menyengat sesaat mesin mobil dinyalakan.

Mobilpun mulai melaju sementara di kereta kami diisi oleh lima orang peserta. Salah satu yang spesial justru Prof Ahmad ikut dalam kereta wisata kami. “Wah bakal seru nih” pikir saya.

Dugaan saya ternyata tidak meleset. Prof Ahmad benar-benar memberikan joke-joke ringan yang membuat penasaran, mengocok perut dan sesekali garing hahahaha.

Salah satu kalimat kutipan andalannya adalah “Manusia itu adalah makhluk yang tertawa“. Kesimpulannya kalau ada manusia yang mendengar joke-jokenya tidak tertawa, jadi sudah paham kan arahnya ke mana? hahahaha.

Di perjalanan menuju lokasi berkumpul, rombongan kereta wisata sempat berhenti di sebuah titik di mana kami melihat sejauh mata memandang kawasan Rawa Pening dan Gunung Merbabu dari ketinggian.

Rasanya jadi bikin kangen sama kampung halaman saya di Bandung. Rumah saya kebetulan berada di Bandung Utara. Dari bukit Uhud itulah saya kerap menikmati kerlap kerlip kota Bandung di pagi hari dengan latar belakang pegunungan yang indah mengelilingi cekungan purba yang kini menjadi salah satu kota pendidikan di Jawa Barat.

Namanya Profesor, saat kami sedang asyik selfie, justru Prof Ahmad mencabut beberapa tanaman liar seperti Jonghe, Bolostrong dan Babadotan.

Saya penasaran dengan rasa Jonghe. Karena Prof. Ahmad sendiri langsung mengunyahnya. Katanya, khasiat Jonghe itu cukup banyak terutama untuk pencernaan.

Daunnya agak berbulu, rasanya seperti daun jambu tapi tidak terlalu kuat cuma agak geli aja di lidah saat pertama kali masuk ke dalam mulut.

Bagi saya yang termasuk generasi millenials merasa malu karena kadang-kadang kita lupa tanaman-tanaman berkhasiat yang tumbuh liar di pekarangan dan lingkungan sekitar.

Padahal tanaman herbal ini sudah banyak dimanfaatkan di beberapa negara maju. Dulu kita pernah punya Prof Hembing yang amat terkenal dengan sajian acara herbalnya yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit melalui pengobatan tradisional.

Sayangnya justru saat ini semangat untuk kembali ke alam gaungnya terasa berkurang. Itulah sebabnya Nutricia Sarihusada memiliki misi agar warga masyarakat mulai mengenal apa yang dikonsumsi. Minimal memahami manfaat dari makanan-makanan yang dikonsumsi setiap hari bagi tubuh.

Pada tahun 2050 nanti diperkirakan akan ada 870 juta orang kekurangan gizi. Pasalnya pertumbuhan populasi manusia di dunia akan mencapai angka 9.8 juta jiwa menurut catatan PBB.

Agar generasi selanjutnya bisa diselamatkan masyarakat diharapkan lebih cerdas dalam memilih makanan serta memiliki kontribusi dalam segi lingkungan seperti tidak menyisakan makanan, meremas kemasan botol air minum dan memperhatikan limbah olahan makanan.

Setelah tiba di lokasi, ternyata pemandangan di sini benar-benar cantik. Bahkan sudah ada dua spot instagramable yang disediakan pengelola. Ini salah satu pose saya ketika levitasi di Kampung Kopi Banaran, Semarang.

kampoeng kopi banaran bawen semarang

Wisata kuliner Jelajah Gizi 2018 di Kampung Kopi Banaran benar-benar sempurna. Di tempat ini saya baru mengenal panganan lokal seperti mendut. Makanan tradisional bola bola warna warni dari tepung beras dengan isian kelapa dan gula merah. Rasanya mirip seperti ronde, tapi yang ini lebih manis.

Selain itu, lauk makan siang nya pun sangat nikmat. Benar-benar mengingatkan memori saya pada kampung halaman.

Sebagai penutup saya mencoba secangkir kopi hangat sambil menikmati stand up comedy dari Prof Ahmad.

Kopi apa yang bikin sakit hati?” tanyanya.

Karena tak ada yang menjawab dengan benar akhirnya Prof memberikan jawabannya.

Kopilih dia daripada aku!” tuturnya sambil tergelak.

Kapan kita ngopi lagi? #semarang #jelajahgizi #jelajahgizisemarang @nutrisibangsa

A post shared by Dzulfikar (@dzulfikaralala) on

Jelajah Gizi Semarang 2018

#JelajahGiziSemarang So happy menjadi salah satu blogger yang ikut dalam program edukasi @nutrisibangsa Jelajah Gizi. Event ke 6 ini berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Nah, yang spesial dari Jelajah Gizi kali ini adalah bukan hanya sekadar wisata kuliner semata tapi juga, kita bakal menggali nilai gizi pangan lokal yg terkadung. Supaya lebih afdhol, Jelajah Gizi mengajak serta Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD seorang pakar gizi dan keamanan pangan Institut Pertanian Bogor. Perhentian pertama di Resto atau Rumah Makan Semarang dengan gaya arsitektur yang mempertahankan kondisi aslinya. Suprisingly, di resto ini ada berbagai koleksi antik mulai dari mesin tik jadul sampai Bemo. Semarang itu konon berasal dari kata Asem dan Arang. Jadinya Semarang. Artinya kota yang memiliki pohon arang arang atau jarang jarang. Nama tersebut menurut cerita diberikan oleh Sultan Demak Pertama Ki Ageng Pandan Arang atau Ki Ageng Pandanaran. #travelwriter #travelblogger #iger #Semarang #SimpangLima #lawangsewu

Sebuah kiriman dibagikan oleh Dzulfikar (@dzulfikaralala) pada