Anak-anak lebih banyak mengalami problem psikologis dibandingkan problem akademik

Komaruddin Hidayat

Kata-kata itu mungkin ada benarnya. Karena pak Komar memang melihat potret permasalahan psikologis itu dari sekolah yang di bimbingnya yaitu Sekolah Madania, Bogor.
Saya sependapat dengan pendapat pak Komar. Karena sesungguhnya problem sehari-hari yang lebih banyak saya hadapi di sekolah adalah problem kejiwaan anak-anak. Maka tak pelak, sebagai seorang guru saya harus juga memahami psikologi anak/remaja.
Pemerintah saat ini berupaya untuk menghadirkan seorang psikolog di setiap puskesmas. Seharusnya langkah ini diikuti oleh institusi pendidikan mulai dari level terrendah hingga yang paling tinggi.

Meskipun di sekolah sudah ada guru bimbingan konseling, ada baiknya diperkuat dengan kehadiran seorang psikolog. Sehingga penyelesaian problem anak-anak bisa lebih komprehensif.

Sebetulnya bukan hanya guru saja yang memerlukan bekal psikologi anak/remaja. Tetapi, orang tua juga seharusnya diberikan pelatihan psikologi anak/remaja. Sekolah bisa memfasilitasi dengan memberikan clinic psikologi secara rutin pada orang tua siswa.

Dengan demikian apa yang didapatkan disekolah bisa selaras dengan apa yang diterapkan dirumah. Terkadang siswa lebih takut pada guru disekolah tapi melawan pada orang tua. Namun ada juga yang sebaliknya.

Disinilah fungsi guru bimbingan konseling dan psikolog memberikan pemahaman kepada guru dan orang tua bagaimana menyikapi anak-anak yang sejatinya lebih membutuhkan banyak perhatian dan ingin didengar.

Salam Hangat

Dukung saya dalan pertukaran bloger.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+