Skip to content →

Tag: aseanblogger

Jakarta, Miniatur ASEAN yang Sesungguhnya

Tema terakhir #10daysforASEAN rasanya perlu saya cantumkan disini. “Menurut teman-teman blogger mengapa Jakarta bisa terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN? Apa dampak positif dan negatifnya bagi Indonesia khususnya Jakarta? Kesiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN?”

Ikon Jakarta (source; click the pic)

Enjoy Jakarta

Dengan segala kompleksitasnya, ternyata Jakarta memiliki pesona bukan hanya bagi rakyat Indonesia tapi juga di mata anggota ASEAN. Kini Jakarta ditunjuk sebagai ibukota negara ASEAN. Alasannya cukup sederhana. Seperti yang sudah disebutkan oleh beberapa peserta 10daysforASEAN bahwa Jakarta adalah tempat sekretariat ASEAN. Selain itu Jakarta (Indonesia) merupakan salah satu negara ASEAN satu-satunya yang tergabung dalam negara G20. Hal tersebut sudah merupakan poin lebih mengapa Jakarta dipilih sebagai Diplomatic City of ASEAN.

Leave a Comment

Mewujudkan Tiga Pilar Persatuan Komunitas ASEAN

asean
Asean Community (dok.www.zinbads123.livejournal.com)

Ada tiga pilar utama yang menjadi fokus kerjasama sesama negara ASEAN yaitu pilar keamanan, pilar ekonomi, pilar sosial dan kebudayaan. Untuk mewujudkan ketiga pilar tersebut, Indonesia lebih banyak digadang-gadang mampu menyatukan negara-negara ASEAN dengan segala kompleksitas permasalahannya.

Di sisi lain, Indonesia kini tengah dilanda krisis ‘kedaulatan’, dimana bahan pangan sekalipun lebih banyak di impor dan tidak dapat berswasembada. Agak ironis juga sebuah negara yang tidak ‘berdaulat’ dalam bidang ekonomi namun ditunjuk untuk maju sebagai yang utama dan terdepan secara tidak tertulis. Ibarat menyuruh anak kecil yang tidak cakap berlari dalam perlombaan lari, dalihnya anak tersebut hanya kelihatan lebih besar badannya dibandingkan dengan yang lainnya.

Leave a Comment

Mengurai Tali Kusut Pertikaian Singapura dan Malaysia

pedra branca
Pedra Branca (dok. http://www.haguejusticeportal.net/)

Sengketa Pedra Branca adalah persengketaan wilayah antara Singapura dan Malaysia terhadap pulau yang terletak di pintu masuk [Selat Singapura sebelah timur. Terdapat tiga pulau yang dipersengketakan, yaitu Pedra Branca (disebut Pulau Batu Puteh oleh Malaysia), Batuan Tengah dan Karang Selatan. Persengketaan dimulai pada tahun 1979 dan sebagian besar sudah diselesaikan oleh Mahkamah Internasional tahun 2008. Pedra Branca diserahkan pada Singapura berdasarkan pertimbangan effectivity dan gugus terumbu karang batuan tengah (dalam kenyataan adalah pantai utara dari pulau Bintan dalam wilayah Republik Indonesia) diserahkan pada Malaysia. Dikutip dari Wikipedia.

Oke, bicara masalah persengketaan tanah sebetulnya sudah wilayah yang cukup berat karena menyangkut hukum. Apalagi persengketaan yang dimaksud bukan perorangan melainkan negara. Terlebih lagi yang diperebutkan adalah sebuah pulau.

Leave a Comment

Laos, Virgin ASIA!

laos
Laos tak memiliki laut (http://have-feet-will-travel.com)

Laos, sebagai negara yang tidak memiliki kawasan laut merupakan negara yang kaya akan sumber pertanian dan pariwisata. Laos memiliki potensi perekonomian di kedua bidang tersebut. Dari segi pariwisata boleh dibilang kawasan Laos masih virgin. Kawasan Laos ibarat suku Baduy di Banten, selain memiliki pesona mistis, Laos pun memiliki tradisi dan budaya yang kuat.

Sebagian besar rakyatnya memeluk Agama Budha. Jadi tidak berbeda jauh dengan Thailand dan Kamboja. Dengan jumlah penduduk lebih dari enam juta jiwa, Laos memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata di kawasan ASEAN. Suku Pao di Laos masih menjunjung tinggi nilai adat dan istiadat seperti suku Baduy di Banten.

Leave a Comment

Kopi Andalan Indonesia, Saatnya Mendunia!

Jika menulis masalah kopi, rasanya tidak bisa sekaligus selesai. Caranya harus sama ketika menikmati kopi itu sendiri. Diseruput pelan-pelan selagi panas. Tidak perlu terlalu buru-buru menikmatinya, apalagi jika harus ditiup atau di tuangkan ke sebuah piring kecil. Tentunya kopi nikmat itu akan segera habis. Ibarat menikmati cokelat, tidak perlu langsung di kunyah dan ditelan langsung. Tapi dinikmati dengan menempelkan cokelatnya di langit-langit dinding mulut kita. Wahhh lelehannya seperti meledak di mulut. Sama persis dengan cara menikmati secangkir kopi di pagi atau sore hari.

Kebetulan saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Bondan Winarno pada sebuah acara yang diselenggarakan Kompasiana dan Urbanesia di Kopi Oey Fatmawati. Dari perbincangan tersebut banyak hal yang membuat saya terkejut. Salah satunya ternyata tak mudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Artinya, selama ini kebanyakan orang Indonesia bukan membeli kualitas sebuah rasa dan kenikmatan kopi, bisa jadi hanya unsur gengsi semata.

Leave a Comment