Skip to content →

Tag: education

English Conversation: An Invitation

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=VXUXpZjFgUw&w=640&h=360]

This is my second video that I make in grade XI science. I told them to make a dialogue first about how to invite someone to an occasion. After that I asked them to come forward to perform their dialogue based on their own groups. Too many funny things happened in the video. I just pick some of them.

Leave a Comment

Telling your Hobbies, Hometown and Season

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=ED5Lbd-3XIE&w=640&h=480]

This is my first video that I take in English Lesson in grade X. I asked them one by one to tell their hobbies, hometown and I asked trivial question. Most of the questions were taken from Interchange Fourth Edition, Cambridge and I related to Indonesia condition. They actually talked not only about the title I wrote. But, this is the compilation from whole session. Hope you can take many lesson from this video. For the next lesson, I’ll show my learning and teaching process through video. Enjoy 🙂

Leave a Comment

#3 Tugas Ekskul Jurnalistik: Bercerita Melalui Foto

20130826_073856
Salah satu contoh bidikan saya setelah memahami dan membaca modul om Didiet tentang Rules of Third atau komposisi dalam fotografi 🙂 (dok.pribadi)

“Setiap fotografer itu bukanlah penulis” saya lupa siapa yang mengatakan hal itu tapatnya, yang jelas orang yang mengatakannya dalam status facebook itu adalah anggota kampret (kompasianer hobi jepret). Yah antara Om Didiet atau mas Harja. Dari komunitas itulah saya belajar fotografi dengan menggunakan kamera smartphone seadanya.

Terkait dengan quote diatas, akhirnya saya membagikan materi yang pernah di bahas oleh om Didiet tentang Rules of Third atau komposisi dasar fotografi kepada anak-anak eksul jurnalistik. Sepekan sebelumnya saya meminta mereka untuk membawa sebuah kamera. Tidak harus kamera DLSR, jadi mereka bebas membawa kamera jenis apa saja.

Leave a Comment

Orang Tua pun bisa Bersifat Reaktif

image
Illustrasi pentingnya hubungan anak dan ayahnya

Ternyata bukan hanya anak anak yang bisa bersifat reaktif. Orang tua pun sejatinya berpotensi bersifat reaktif terutama jika menyangkut perilaku anaknya disekolah. Meskipun terkadang belum tentu apa yang disampaikan sekolah kepada orang tua merupakan hal yang negatif.

Reaktif adalah perilaku yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah. Biasanya dia malah menyalahkan orang lain atau mencari cari penyebab kesalahan dari luar. Reaktif bertolak belakang dengan proaktif. Maka jika menghadapi orang tua yang reaktif memang diperlukan bukti-bukti yang cukup kuat agar orang tua bisa memercayainya.

Sore kemarin saya mendapatkan sebuah contoh bagaimana orang tua bisa bersifat reaktif. Ceritanya adalah ada seorang guru yang mendapati anak didiknya menggambar seorang anak laki-laki sambil menginjak bayi dan gambarnya seperti berlumuran darah. Mengerikan memang. Apalagi anak ini ternyata belum genap duduk di bangku sekolah dasar.

Mengetahui hal tersebut sang guru kemudian mengorek lebih dalam mengapa anak ini bisa menggambar sebuah gambar yang sadis untuk anak seusianya. Ternyata dia merasa kesepian dalam keluarganya sendiri. Hampir setiap hari kedua orang tuanya pulang malam sehingga dia tak memiliki teman.

Dia berujar bahwa jika ayahnya pulang lebih awal, itupun langsung masuk ke kamarnya dan malah sibuk dengan iPad-nya. Ia merasa bosan dan kesepian. Ayahnya jarang menemaminya bermain atau belajar. Sedangkan ibunya lebih memilih untuk senam bersama teman-temannya sebelum pulang kerumah.

Itulah penyebab mengapa ia merasa bosan dan kesepian. Ia merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Ia seperti kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Akhirnya pihak sekolah berusaha untuk mengkomunikasikan temuan tersebut. Sayangnya orang tuanya justru menyalahkan pengaruh keluarga lainnya. Padahal harapannya orang tua bisa menyadari bahwa anaknya selama ini menginginkan orang tuanya hadir di rumah bersamanya.

Jika sudah demikian sekolahpun perlu berhati-hati menyampaikan hal tersebut dengan baik. Agar orang tua tidak justru malah memarahi anaknya. Orang tua yang sibuk seperti ini persis seperti apa yang dikatakan Prof. Komaruddin Hidayat bahwa anak-anak hanya ibarat bahan pakaian yang di berikan kepada penjahit.

Bagaimanapun sekolah bukan saja perlu mendidik anak tapi juga dalam kasus seperti ini harus turun tangan agar keluarganya bisa berubah menjadi lebih positif agar anaknya bisa tumbuh dan belajar dengan baik. Anak-anak sekarang mungkin memang lebih beruntung dari segi finansial tapi miskin perhatian kedua orang tua.

Salam Hangat

Leave a Comment

Meriahnya Open House Ehipassiko School

image

Acara Open House Ehipassiko School berlangsung sangat meriah. Para siswa menampilkan banyak performance mulai dari break dance, tari tradisional, kabaret, drama hingga lomba-lomba yang diikuti oleh beberapa sekolah dari luar. Selain itu hadir pula beberapa lembaga pendidikan ikut memeriahkan acara open house Ehipassiko School tahun 2012

Leave a Comment