Kalau kata kang Pepih Nugraha, Co-Founder Selasar yang juga “bidan” Kompasiana, “Kopi itu digiling, bukan disobek” tuturnya sambil memamerkan Kopi Arabica Gayo dari Aceh.

Saya bukan penggemar kopi yang maniak banget harus ngopi beberapa cangkir dalam sehari. Lidah saya dibesarkan oleh kopi sachetan yang harus disobek terlebih dahulu. Mana kenal yang namanya grindingbrewing, drip, dan press, zaman dulu. Kalau ngopi ya ngopi aja, cukup dari kopi sachetan.

Jadi, ketika kang Pepih ngomong gitu, saya jadi merasa tertohok banget hahaha.

Kebetulan di deket rumah saya ada kopi kaki lima dengan sensasi rasa Eropa. Lho kenapa? Ini cuma soal pemantik aja kok, supaya banyak yang klik hehehe. Padahal, kalau kita menyadarinya, kopi Indonesia itu jauh lebih enak dibandingkan dengan kopi yang dijual di gerai mal ternama di Jakarta.

Yah, namanya juga orang Indonesia. Lebih mementingkan gengsi ketimbang soal rasa dan selera.

Kalau sudah pernah ngerasain Kopi Arabica Gayo Aceh dan Kopi Amungme Gold dari pegunungan Nawangkawi di Papua, pasti deh langsung sirna tuh mendewa-dewakan kopi yang kebanyakan susunya dibandingkan kopinya.

Kopi sebelah, cuma beda kemasan dan beda tempat nongkrong doang sih hehehe.

Kalau soal rasa, kopi asli Indonesia jauh lebih enak. Bahkan jadi Raja di Eropa dan Amerika.

Saya gak terlalu suka sama kopi yang gak enak #mulaisombong , sejak ngerasain kopi asal Gayo dan Papua. Soalnya taste lidah saya udah naik kelas setelah ngerasain Kopi Arabica Gayo Premium dari salah satu sahabat di Aceh, pak Syukri . Terlebih saya juga pernah merasakan nikmatnya Kopi Amungme Gold dari Papua.

Gara-gara pernah menikmati kopi paling enak itulah, kalau ngerasain kopi dengan rasa di bawahnya dengan harga yang sama, serasa pesan hotel bintang lima tapi kenyataanya malah dapetin layanan hotel bintang tiga. Jauh banget kan bedanya?

Jujur di Pamulang, Tangerang Selatan saya belum menemukan kopi seenak racikan kopi kaki lima di Villa Pamulang ini. Kopinya juga dijajakan dengan cara yang sederhana, merakyat banget. Namanya Bike Coffee Choen.

Sekilas sih emang biasa aja. Tapi kalau diperhatikan lebih seksama, ini bukan abang-abang kopi yang jualan pakai sepeda dengan rencengan kopi sachetan menggantung di sepedanya.

Semua kopi di sini masih dalam bentuk biji kopi. Jadi, sebelum dinikmati, ya benar-benar harus melalui beberapa proses unik. Seni mengolah kopi hingga disajikan di wadah inilah yang menarik.

Kalau di cafe ada namanya barista. Barista adalah peracik kopi yang kini bisa jadi profesi yang sangat menjanjikan. Nah, abang-abang kopi kaki lima ini juga bagi saya barista yang ok punya. Racikannya gak pernah mengecewakan.

Kalau lagi kuat tidur malam, saya biasanya pesan kopi hitam. Tapi kalau kira-kira gak ada kerjaan ya saya pesan cappuccino hangat.

Dua jenis kopi yang paling laris di kopi kaki lima ini tepat seperti dugaan saya. Arabica Gayo dan Papua. Malah varian lain sempat diobral buat ngabisin stock lama. Rata-rata harga satu cup kopi di kopi kaki lima ini murah banget, mulai dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 25 ribu, tergantung jenis kopi dan cara penyajiannya yang membedakan.

Pernah sekali waktu diobral cuma 4 ribu per cup kopi. Tapi saya gak pernah tertarik sih buat coba yang lain. Lidah saya udah pas banget, kalau gak Aceh Gayo ya Papua.

Pernah juga ngerasain Toraja, tapi buat saya, rasanya terlalu strong. Ya minimal sih Kopi Aroma Bandung itu udah standar buat ngopi saat ini. Kalau gak ada banget ya balik lagi ke Kopi Kapal Api atau Kopi ABC Susu hahaha.

Kalau pas lagi nongkrong di sini, saya suka ajak anak bini juga. Anak-anak biasanya pas pesan es krim, kebetulan di sebelahnya ada indomaret. Sementara istri saya kadang pesan Cappuccino dingin, kadang juga pesan Chocolate.

Bukan soal harga sih yang bikin saya balik lagi ke sini. Buat saya rasa itu yang jadi alasan utama. Sama lah kayak makan pecel lele, pasti rasa sambalnya yang bikin kita pingin balik lagi ke tempat yang sama.

Meskipun cuma kopi kaki lima yang dijual di atas gerobak sepeda, penyajiannya gak kalah dong sama barista di cafe ternama. Bisa pesan dengan berbagai penyajian, tubruk, espresso, cappuccino, vietnam drip, french press sampai latte.

Kalau punya banyak waktu saya pesan dengan cara penyajian vietnam drip. Nunggu netesnya itu yang lama hahaha.

Jadi, kalau ada yang mau mampir ke Pamulang, minimal saya ajak ngopi di tempat ini.

@DzulfikarAlala

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+